
Kegelisahan Warga Soppeng di Tengah Pengeboran Air Bersih
Selama tiga hari terakhir, Bupati Soppeng Suwardi Haseng dan Wakil Bupati Selle KS Dalle berada dalam ketegangan yang luar biasa. Mereka menunggu hasil pengeboran air bersih yang menjadi harapan besar bagi warga setempat. Proyek ini tidak hanya menjadi pertaruhan kebutuhan dasar warga, tetapi juga janji kampanye yang mereka sampaikan dua tahun lalu.
Pengeboran dilakukan di kawasan rumah jabatan bupati, tepatnya di titik tertinggi Watansoppeng, menggunakan mesin khusus dari China. Teknologi yang digunakan mampu menembus kedalaman hingga 400–500 meter. Dengan teknologi tersebut, keduanya optimistis bahwa air bersih akan segera ditemukan dan menjadi kado istimewa dalam perayaan HUT Soppeng yang ke-765.
Inisiatif Bupati untuk Menyediakan Air Bersih
Menurut Selle KS Dalle, inisiatif ini murni berasal dari Bupati. Ia memilih lokasi rumah jabatan karena merupakan titik tertinggi di kota Soppeng. Selain itu, proyek ini juga menjadi bagian dari program Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan skema Build Operate Transfer (BOT) selama 30 tahun. Investasi ini dilakukan oleh pihak swasta, sehingga tidak membebani keuangan daerah.
Sejak Jumat (3/4/2026) pagi, mesin water drilling machine di belakang rumah jabatan bupati masih terus beroperasi. Akhir pekan lalu, bupati dan wabup menekan tombol aktivasi mesin yang didatangkan khusus dari kontraktor asal Bandung, Jawa Barat. Hingga awal pekan ini, proses pengeboran masih berlangsung di titik rintisan air bersih.
Proses Pengeboran yang Memakan Waktu
Durasi pengeboran bisa mencapai lima hari karena kontur geologi tanah Watansoppeng yang terdiri dari batuan jenis Alfisol. Insinyur teknik UMI mengatakan bahwa dari penampang visual air bawah tanah terlihat ada semacam danau air jernih pada kedalaman 450 hingga 500 meter.
Jika tidak ada kendala dalam proses mesin bor dan pemasangan pipa dengan diameter 8–10 mm, semburan air jernih akan muncul pada Selasa (7/4/2026), atau sehari sebelum kedatangan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman ke Watansoppeng.
Mesin buatan China ini dirancang untuk eksplorasi air tanah dengan teknologi crawler (roda rantai) untuk mobilitas dan tenaga diesel untuk efisiensi tinggi. Mesin ini mampu melakukan bor dengan diameter 100–500 mm.
Masalah Krisis Air Bersih di Soppeng
Watansoppeng, ibu kota kabupaten dengan penduduk 244 ribu jiwa, selama tiga dekade terakhir mengalami krisis air bersih. Sebanyak 52 ribu warga di 7 kelurahan urban dan tiga kecamatan sekitar terdampak langsung. Proyek SPAM ini akan melibatkan 50 titik bor di 8 kecamatan di Soppeng.
Krisis air bersih ini telah menjadi beban bagi empat kepala daerah sebelumnya. Hampir setiap hari, pelanggan PDAM mengeluh tentang biaya bulanan yang tinggi namun debit, durasi aliran, dan kualitas air yang terus menurun.
Permasalahan Jaringan Air Bersih
Masalah lain yang dihadapi adalah jaringan instalasi air bersih yang sudah tua. Pipa-pipa yang ada mengalami kerusakan dan menyebabkan tingginya tingkat kebocoran. Perusahaan utilitas utama publik ini juga hampir 2 dekade tidak berkontribusi ke keuangan daerah.
Kegelisahan ini mulai ditangani sejak awal pemerintahan Suwardi-Selle. Februari 2025 lalu, atau hanya dua pekan setelah dilantik bersama 651 kepala daerah di Jakarta, bupati dan wabup langsung fokus pada penyediaan sumber air baku.
Fokus pada Kecamatan Lalabata
Fokus pertama di kecamatan Lalabata, yang memiliki kepadatan penduduk 179,24 jiwa per km². Konsumen air terbanyak ada di Kelurahan Lalabata Rilau, dengan jumlah penduduk sekitar 9.899 jiwa. Wilayah ini menjadi prioritas utama dalam pelayanan air bersih.
Konsumen air terbesar terdapat di beberapa kelurahan dan desa, seperti Bila, Botto, Lalabata Rilau, Lapajung, Lemba, Ompo, Salokaraja, serta tiga desa yaitu Maccile, Mattabulu, dan Umpungeng.